Hoax
dan propaganda yang dilakukan oleh elite partai oposisi, Gerindra, PAN,
PKS dan Demokrat, bukan sekedar soal berbohong dan menyebarkan
kebohongan. Tidak. Tapi lebih dari itu semua, ini soal propaganda dan
sikap politis yang sangat provokatif. Menggunakan hoax untuk kepentingan
politik.
Soal kasus pengeroyokan terhadap
Ratna, sekalipun ini hoax atau bohong-bohongan, saya jadi teringat
dengan kader PDI Perjuangan yang tahun lalu dikeroyok oleh oknum laskar
FPI. Ini dikeroyok sungguhan lho ya, bukan hoax.
Widodo,
kader PDI Perjuangan ranting Jelambar Jakarta Barat saat itu ikut
mengamankan Djarot yang sedang berkampanye. Namun kemudian laskar FPI
ini menghadang dan sempat terjadi gesekan. Cekcok adu mulut.
Karena
tak puas adu mulut, 7 orang laskar FPI mendatangi rumah Widodo dan
langsung melakukan pengeroyokan. Widodo akhirnya dibawa ke rumah sakit
dan mengalami gegar otak. Badannya lemas. Sekali lagi ini bukan hoax,
ini benar-benar terjadi.
Teman-teman kader PDIP
yang mengetahui hal ini langsung mendatangi kantor polisi terdekat,
membuat laporan. Emosi kader PDIP sempat memanas, sehingga kasus
pemukulan ini sampai pada telinga ketua umum, Ibu Megawati.
Di
saat kader PDIP begitu emosi dan bahkan ada yang berencana melakukan
perhitungan atau pembalasan, Bu Mega datang menjenguk kadernya yang
menjadi korban pengeroyokan. Beberapa elite partai juga turut hadir
mendampingi.
Pesan Bu Mega kepada elite partai
yang menemaninya waktu itu cukup sederhana “Saya minta semua kader tetap
tenang. Kita tetap jaga persatuan Indonesia.”
Ajaibnya,
tensi tinggi di tingkat kader pun mendingin. Segala niat pembalasan pun
otomatis padam. Semua kader kembali kepada aktifitas masing-masing,
mengawal pelaporan, mendoakan dan menjenguk Widodo di rumah sakit. Tidak
ada lagi niat membalas atau membuat perhitungan dengan laskar FPI.
Jujur
saya tak dapat membayangkan jika Bu Mega bertindak seperti Prabowo dan
elite partai oposisi. Menebar ketakutan dan provokasi di kalangan
kadernya atau bahkan konpres terbuka kepada masyarakat luas. Bisa-bisa
seluruh simpatisan dan kader partai emosi lalu bergerak di luar batas.
Sehingga kerusuhan dan saling balas dendam antara PDIP dan FPI akan
semakin meluas ke urusan agama.
Meski tanpa
konpres provokatif, dan malah meminta kadernya untuk tetap tenang, oknum
FPI yang melakukan pengeroyokan menyerahkan diri ke polisi. Mereka
cukup ketakutan dengan aksi balasan, sehingga mencari perlindungan ke
polisi.
Hari
ini saya baru sadar, betapa pentingnya sikap pimpinan partai dalam
menghadapi isu atau persoalan. Saya baru sadar betapa pentingnya memilih
partai politik yang bisa memberikan nilai-nilai persatuan, menghargai
nikmat kemerdekaan dan menempatkan kepentingan NKRI di atas kepentingan
partai.
PDIP sebagai partai penguasa dan partai
terbesar di Indonesia saat ini tidak melakukan tindakan-tindakan
politis. Dari ketua umum sampai kader rantingnya sepakat menyerahkan
kasus pengeroyokan kepada Polisi. Padahal pengeroyokan ini benar-benar
terjadi, bukan hoax seperti yang dimainkan Gerindra, PAN, PKS dan
Demokrat.
Sampai di sini akhirnya saya paham.
Bahwa kita punya pilihan dan dituntut untuk memilih. Jika 2019 nanti
kita masih memilih partai-partai provokator yang menggunakan hoax untuk
membenci dan menyerang lawan politiknya, hanya demi kuasa mereka rela
memecah belah bangsa, maka 5 tahun ke depan kita masih akan melihat
provokasi-provokasi mereka.
Sudahlah, ini bukan
kebetulan atau spontanitas. Sejak Pilpres 2014 mereka sudah buat quick
count palsu. Menakut-nakuti Indonesia bubar berdasarkan novel fiksi.
Belum lagi soal hoax PKI. Kita sudah muak!
Pemilu
serentak 2019 bukan hanya soal memenangkan Jokowi Amin. Tapi juga
memenangkan partai-partai yang mau meletakkan kepentingan dan persatuan
bangsa Indonesia di atas kepentingan partai.
Karena kalaupun nanti
Jokowi Amin menang, tapi partai oposisi masih punya banyak suara, ke
depan Jokowi akan terus direcoki oleh komentar, fitnah dan tuduhan yang
selalu membuat kita emosi. Mengganggu Presiden kita dengan segala cara.
Menghambat laju kerja Presiden, dan kita disibukkan dengan menjawab
fitnah-fitnah yang terus mereka produksi.
Kita
menangkan Jokowi Amin, dan menangkan partai-partai pengusungnya.
Tenggelamkan PKS, Gerindra, PAN dan Demokrat. Jangan beri mereka
kesempatan dan ruang untuk mengganggu dan memprovokasi masyarakat
Indonesia. #JokowiLagi.
sumber : https://seword.com/politik/kader-pdip-dikeroyok-bu-mega-minta-kadernya-tenang-tak-ada-konpres-provokatif-nfi39Rx5Y
