Apapun
yang akan disampaikan dan dijadikan dalih oleh tim Prabowo, pada
akhirnya mereka harus menerima kenyataan. Bahwa mereka telah ikut
menyebarkan berita bohong, memprovokasi dan menyerang lawan politiknya.
Prabowo
menyebut ini pelanggaran HAM. Bercerita dan mengatakan bahwa dirinya
telah melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Ratna dan keluarga
sedang trauma. Bahkan berhari-hari di rumah sakit tidak mau melaporkan
hal ini ke polisi.
Faktanya, rumah sakit yang
ditempati adalah rumah sakit khusus bedah. Pada alam nyata, mustahil
keluarganya tidak tahu kalau Ratna sedang menjalani sedot lemak, bukan
karena dipukuli orang tak dikenal. Jadi kalau Prabowo mengatakan
keluarganya trauma dan berhari-hari di rumah sakit, ini kemungkinannya
cuma dua. Keluarga Ratna ikut main sandiwara, atau Prabowo yang
mengarang cerita sendiri.
Tapi oke, katakanlah
seluruh keluarga Ratna bersandiwara dan Prabowo sebagai korban hoax.
Apakah masih bisa diseret ke penjara? bisa. Karena Prabowo telah
menyebarkan hoax dibumbui dengan propaganda. Prabowo bukan hanya
menyebar hoax Ratna dipukuli orang tak dikenal, tapi juga menyebar hoax
bahwa mobil Neno Warisman dibakar orang tak dikenal. Padahal
kenyataannya mobil Neno konslet.
Kesalahan
Prabowo adalah dia mendatangi Ratna Sarumpaet, dan setelah melihat ada
penganiayaan (padahal hoax), dia tidak melaporkan kejadian ini ke
polisi. Malah mengadakan konpres politis dan mengatakan bahwa telah
terjadi banyak kekacauan dalam alam demokrasi kita. Menurut hukum
Indonesia, seseorang bisa dipidana, bisa diseret ke pengadilan apabila
dia mengetahui terjadi sebuah kejahatan tapi tidak melaporkannya ke
polisi.
Dengan konpres dan fakta Prabowo tidak
melaporkan kejadian ini ke polisi, maka jelas terlihat bahwa dia tidak
memiliki niat baik. Justru lebih terlihat memiliki niat jahat karena
menebar provokasi, ditambah dengan hoax mobil Neno dibakar orang tak
dikenal, padahal konslet.
Sehingga menurut Erick
Antasaria, Prabowo memenuhi syarat untuk dipenjara berdasarkan tiga
hal. Ada niat jahat. Ada perbuatan jahat. And ada pasal pidana yang
dilanggar.
Begitu juga dengan Fadli Zon yang
mengabarkan ada luka sayatan di kepala. Seolah benar-benar terjadi
pengeroyokan. Sementara Fahri Hamzah yang memprovokasi massa di Menteng,
meminta agar Jokowi berhenti jadi Presiden juga sangat terlihat niat
jahatnya. Menggunakan cerita hoax untuk menuntut Presiden Jokowi mundur.
Pada
intinya, semua provokasi dan tweet kelompok Prabowo, sudah berada di
tangan polisi. Sehingga ke depan polisi tinggal menangkap satu persatu
tokoh-tokoh tersebut untuk diselidiki dan ditahan.
Saya
sangat yakin Prabowo, Fahri, Fadli dan komplotannya pasti dipenjara.
Langkah Polri dalam menangani hal ini sudah semakin jelas, Ratna
ditahan. Handphone miliknya pasti juga sudah disita polisi untuk
dipelajari rekam jejak digital, menganalisis kemungkinan adanya
konspirasi jahat untuk membuat hoax dan kericuhan di Indonesia.
Ditambah
dengan data-data pamflet yang sudah dicetak, kemudian pemilihan 2
Oktober untuk konpres Prabowo terkait pengeroyokan terhadap Ratna,
dimana 2 Oktober adalah hari anti kekerasan internasional. Kebetulankah?
Haha sudahlah, saya ini juga paham politik. Setiap langkah politisi
selalu diukur.
Jika (hoax) penganiayaan terjadi
21 September, lalu kalian baru konpres 2 Oktober, itu artinya kalian
benar-benar mengagendakan hal ini. Apalagi Ratna adalah bagian dari tim
kampanye Prabowo, mustahil kalian diam saja dan menunggu sampai 2
Oktober untuk mendatangi Ratna dan konpres.
Kami
juga tidak heran kalau dalam sehari, semua elite partai langsung
bergerak membuat gerakan-gerakan menggalang dukungan dan simpati. Dari
Gerindra, PAN, PKS hingga Demokrat semua kompak menyatakan telah terjadi
penganiayaan. Karena semuanya benar-benar terencana dengan baik.
Kalau sekarang kalian semua kompak berdalih hanya korban hoax, bisakah kalian menjawab pertanyaan berikut?
Kenapa kalian sepakat tidak melaporkan ke polisi?
Kenapa
kalian sepakat membuat cerita dan kronologis penganiayaan? Padahal di
antara kalian ada yang belum bertemu Ratna dan melihat sendiri
kondisinya.
Kenapa kalian memilih 2 Oktober? Padahal kejadiannya 21 September?
Kalau memang baru tahu dari sosial media, kenapa kalian sudah membuat pamflet wajah bonyok Ratna?
Kalau kalian semua merasa ditipu Ratna, kenapa kalian satu kata dalam menyerang pemerintah dan Jokowi?
Saya
tahu kalian tak akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.
Karena memang propaganda hoax ini kalian siapkan untuk hal-hal politis,
demi kuasa dan demi menang pemilu 2019.
Sehingga
bagi saya dan kita semua ini menjadi jelas. 2019 kita harus pilih
Jokowi Amin dan pilih partai-partai pengusungnya. Begitulah kura-kura.
#JokowiLagi
Sumber : https://seword.com/politik/ratna-ditahan-prabowo-fadli-dkk-pasti-menyusul-ayo-tekan-terus-ups57D-Ad
