Hingga
hari ini seluruh media masih membahas Ratna Sarumpaet. Hoax
penganiayaan 'ala PKI' yang dimainkan kubu Prabowo berbuntut panjang.
Kini Ratna terjerat pasal berlapis dengan ancaman hukuman 10 tahun
penjara.
Bahkan tak menutup kemungkinan, segenap
elite politik yang ikut menyebarluaskan berita hoax tersebut akan
berurusan dengan pihak berwajib. Entah mimpi apa sebelumnya, kecerobohan
telah mengantarkan mereka menuju jurang kehancuran.
Setelah Ratna mengakui bahwa cerita penganiayaan
itu fiktif, kesempatan untuk mendongkel Jokowi melalui pengerahan massa
pun gagal total. Kubu Prabowo panik. Meradang tak karuan.
Dengan
sigap, Prabowo segera memainkan strategi cadangan. Maklum lah, ambisi
berkuasanya begitu besar, tak mengherankan jika kubu mereka masih saja
memiliki cara untuk kembali menyerang Jokowi.
"Maaf dengan segala hormat, elite kita telah gagal mengelola negara. Oleh karena itu saya harus turun ke rakyat, menyadarkan rakyat kita, menggugah kesadaran bahwa sistem ekonomi kita keliru," kata Prabowo dalam acara ROSI KompasTV, Kamis (04/10/18).
Pernyataan Prabowo ini pun menuai reaksi dari Wakil
Sekretaris Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Raja Juli
Antoni. Menurut dia, jika yang dimaksud Prabowo adalah pemerintahan saat
ini, pernyataan itu tidak tepat.
Dalam
pandangannya, Indonesia saat ini merupakan negara kokoh, stabil, dan
berdaulat. Ia mengatakan, Prabowo, sebagai bagian dari elite di
Indonesia, juga harus introspeksi.
Skakmat, Jenderal!"Salah satu indikasi elite Indonesia gagal adalah masih ada elite yang dengan mudah menerima kabar bohong dan dengan berapi-api malah menyebarluaskan berita bohong itu," ujar Raja Juli yang juga Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Jumat (5/10/2018, kompasdotcom).
Jujur, saya salut dengan tanggapan Raja Juli Antoni ini. Ia begitu cerdas. Analogi yang digunakan sangat tepat. Mas Juli, kapan kita bisa ketemu? Aku kok pingin nraktir sampeyan ngopi tho. Tapi kopi asli lho, bukan hoax! Hahaha
Yang benar saja. Politikus kawakan kok mainnya amatiran. Menyerang kubu lawan itu sah-sah saja dalam dunia politik. Tapi mbok yang elegan lah. Bonyok karena operasi plastik kok dibilang korban penganiayaan. Penganiayaan mbiahmu kuwi!
"Ketahui
semua yang kamu katakan, jangan kamu katakan semua yang kamu ketahui!"
Mungkin sudah saatnya Prabowo kembali mengingat ungkapan lama ini.
Tanpa
sadar, Prabowo telah membuka aibnya sendiri. Dengan santainya
mengatakan elite Indonesia gagal. Padahal dia sendiri yang gagal
mengendalikan anak buahnya. Ya, kena tipu lah.
Kemudian
Prabowo juga bicara soal ekonomi. Dari pernyataan di atas, dia jelas
ingin mendiskreditkan Pemerintahan Presiden Jokowi. Sistem ekonomi kita
keliru. Haloo????
Saya
rasa Prabowo terlalu lama menikmati novel fiksi itu. Sampai-sampai
tidak tahu bahwa di tangan Jokowi, Indonesia telah membuktikan diri
sebagai negara besar dan tengah berada dalam langkah untuk menjadi
negara maju.
Hal itu terlihat dari pujian yang
diberikan Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Christine
Lagarde. Ia memuji perkembangan ekonomi Indonesia atas berbagai
raihannya setelah lebih dari dua dekade.
"Indonesia harus bangga dengan pencapaiannya, yang telah menurunkan angka kemiskinan sebesar 40 persen," ujar dia dalam acara konferensi internasional tingkat tinggi (High Level Internasional Conference) bertemakan "Models ini a Changing Global Landscape" di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (27/2/2018) lalu.
Selain
itu, dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada awal tahun 2018
lalu telah menembus US$ 1 triliun per tahun. Bahkan dengan masuknya PDB
Indonesia ke angka US$ 1 triliun, menjadikan Indonesia masuk dalam grup trillion dollar club.
Dengan
angka PDB tersebut, Indonesia kini berada di urutan ke-15 sebagai
negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Angka ini diperkirakan akan
terus meningkat mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia juga terus
menanjak.
Kubu oposisi boleh nyinyir sekuat
bibirnya. Tapi fakta berbicara, pertumbuhan ekonomi Indonesia diakui
oleh dunia. Sebagai bukti, Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah
pertemuan tahunan International Moneter Fund (IMF)-World Bank pada bulan
ini.
Oiya, bicara soal pertemuan tahunan IMF ini juga tak bisa lepas dari keculunan...eh kelucuan Prabowo maksud saya. Hahaha
Demi
menutupi rasa malu karena ternyata seorang (purn) Jenderal CS berhasil
dibohongi oleh eyang Ratna, Prabowo berusaha melakukan pengalihan isu.
Dia meminta pemerintah menunda pertemuan tahunan IMF.
Alasannya
cukup masuk akal sih. Palu sedang dilanda bencana. Penanganannya
memerlukan biaya yang sangat besar. Menurut koalisi Prabowo, sebaiknya
dananya digunakan untuk pemulihan Palu dan Donggala. Terlebih saat ini
ekonomi RI sedang bermasalah.
Yah, lagi-lagi ngawur itu memang gratis kok. Jadi siapa saja bisa melakukan kengawuran. Apa lagi mereka, nggak ngawur ya nggak happy lah. Eh...maap, jenderal!
Menjadi
tuan rumah sebuah pertemuan tingkat dunia bukanlah soal remeh temeh.
Selain persoalan teknis, tentu saja juga menyangkut martabat negara
kita. Ya nggak bisa lah main tunda aja.
Lagi
pula, jika memang belum memungkinkan, pemerintah pasti lebih tahu akan
hal tersebut. Soal Prabowo yang nggak paham pengalokasian dana bencana,
wajar lah karena dia belum pernah menjadi seorang Presiden.
Saran
saya buat Pak Prabowo, sudahlah ikuti aja saran dari Mas Raja Juli
Antoni. Introspeksi diri. Kalau antara bonyok karena oplas dan dianiaya
saja masih bingung, nggak usah lah sok-sok an bicara soal ekonomi
negara.
Terima kasih, salam PBNU!
Sumber : https://seword.com/politik/soksokan-urus-ekonomi-negara-prabowo-diskakmat-sekjen-psi-xJlgC8aaW
